Apakah Reumatik Arthritis berhubungan dengan Vitamin D?


Apakah Reumatik Arthritis berhubungan dengan Vitamin D? Rheumatoid arthritis atau artritis reumatoid ialah peradangan kronis pada sendi yang menyebabkan rasa sakit, bengkak dan kaku pada persendian (misalnya sendi kaki dan sendi tangan). Seiring waktu, peradangan ini bisa menghancurkan jaringan persendian dan bentuk tulang. Efek dari kondisi ini akan membatasi aktivitas keseharian, seperti menjadi sulit untuk berjalan dan menggunakan tangan.

rematik

Penelitian baru yang dipresentasikan pada pertemuan ilmiah tahunan American Association for Clinical Chemistry ke-70 (AACC) dan Clinical Lab Expo di Chicago menunjukkan bahwa mengonsumsi suplemen vitamin D mungkin sangat penting untuk mengurangi beberapa gejala rheumatoid arthritis (RA).

Rheumatoid arthritis sebenarnya adalah penyakit autoimun yang menyerang banyak orang. The Arthritis Foundation melaporkan bahwa 1,5 juta orang di Amerika Serikat memiliki rheumatoid arthritis, dan hampir tiga kali lebih banyak wanita memilikinya daripada laki-laki. Penyakit ini adalah penyakit yang menyakitkan dan dapat menyebabkan sendi bengkak atau demam biasa dan kelelahan.

Rheumatoid arthritis biasanya menyerang persendian kecil di tangan dan kaki terlebih dahulu. Beberapa gejala yang sering timbul pada persendian akibat rheumatoid arthritis, antara lain :

1. Kaku. Persendian akan terasa kaku dan sulit untuk digerakkan. Gejala ini terutama dirasakan pada pagi hari atau setelah beristirahat. Gejala kaku pada persendian ini sering dikaitkan dengan osteoartritis. Namun biasanya pada osteoartritis, gejala akan menghilang setengah jam setelah bangun tidur, sedangkan pada rheumatoid arthritis akan bertahan lebih lama.
2. Kemerahan, bengkak, dan terasa hangat. Persendian akan berwarna kemerahan, bengkak, dan terasa hangat saat disentuh.
3. Nyeri. Persendian akan terasa nyeri dan berdenyut. Sama halnya dengan rasa kaku pada persendian, biasanya rasa nyeri lebih parah pada pagi hari atau setelah beristirahat.

Para peneliti menemukan bahwa hanya 33% dari orang-orang dengan rheumatoid arthritis menunjukkan kadar vitamin D yang memuaskan, dan tingkatnya lebih rendah bagi mereka yang memiliki rheumatoid arthritis aktif dan mengalami gejala yang lebih berat.

“Kekurangan vitamin D dikaitkan dengan aktivitas klinis penyakit ini,” para peneliti menulis. “Kuantifikasi kadar serum 25 (OH) D dan, akibatnya, suplementasi vitamin D, harus dipertimbangkan dalam penatalaksanaan pasien dengan rheumatoid arthritis.”

Suplementasi vitamin D penting bagi kebanyakan orang yang tidak memiliki asupan makanan yang cukup. Sumber makanan yang paling umum untuk mendapatkan vitamin D adalah ikan berlemak segar, telur, jamur, hati sapi, dan makanan yang telah ditandai secara khusus seperti diperkaya dengan Vitamin D – susu, jus jeruk, sereal, tahu. Siapa saja yang memiliki penyakit autoimun, seperti rheumatoid arthritis, osteopenia, atau osteoporosis dan gangguan neurologis harus memastikan agar kadar vitamin D mereka tercukupi.

Kekurangan vitamin D dapat dilihat sebagai bagian dari kebiasaan tidak sehat seperti gizi buruk, merokok, penyalahgunaan obat-obatan, penyalahgunaan alkohol, kurang olahraga, faktor fisiologis seperti agoraphobia, atau karena cacat. Faktor ekonomi sosial mungkin menjadi bagian dari kekurangan juga, dan jumlah total dari semua faktor ini sering mengarah pada hasil penyakit yang lebih buruk, dimana kekurangan vitamin D mungkin merupakan penyebab dan tanda suatu penyakit.

Anda bisa mendapatkan suplemen vitamin D melalui dua bentuk terpisah dari vitamin D itu sendiri, yaitu vitamin D-2 atau vitamin D-3. Penelitian saat ini menunjukkan fakta bahwa vitamin D-3 menawarkan suplementasi kadar vitamin D yang lebih baik. Bagi kebanyakan orang, 2000 IU (unit internasional) vitamin D-3 cukup untuk mempertahankan tingkat terapeutik yang normal, tetapi pemantauan kadar darah sangat penting, karena beberapa orang memerlukan dosis yang lebih tinggi untuk mempertahankan tingkat kebutuhan tubuh lebih baik.