Awas!Bahaya Difteri yang dapat mengancam nyawa


Awas! Bahaya Difteri yang dapat mengancam nyawa. Belakangan ini, penyakit difteri menjadi ramai diberbincangkan publik. Hingga November 2017, terdapat 20 provinsi yang telah melaporkan adanya difteri dengan 593 kasus dan 32 kematian. Di Surabaya sendiri kasus difteri ini sudah mulai muncul juga meski belum mewabah.

Difteri

Difteri adalah penyakit yang sangat menular yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium diptheriae dan paling sering dikaitkan dengan sakit tenggorokan, demam, dan perkembangan membran yang patuh pada amandel dan / atau nasofaring. Penularan bakteri ini melalui percikan ludah saat bersin atau batuk seperti disampaikan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, Mohamad Subuh. Infeksi berat dapat mempengaruhi sistem organ lain seperti jantung dan sistem saraf. Selain itu, beberapa pasien dengan difteri juga bisa terkena infeksi kulit. Exotoxin yang dihasilkan oleh bakteri merupakan komponen penting dalam menyebabkan gejala difteri lebih parah.

Apa saja gejala dan tanda difteri?
Awalnya gejala difteri mungkin serupa dengan infeksi saluran pernapasan bagian atas tetapi gejala memburuk sekitar dua sampai lima hari. Gejalanya bisa meliputi:
– sakit tenggorokan,
– demam,
– kesulitan menelan,
– badan lemas,
– suara serak,
– sakit kepala,
– pembesaran kelenjar getah bening yang menghasilkan leher tebal atau “banteng” (menyerupai gondong),
– batuk, dan sulit bernafas.

Seiring perkembangan penyakit ini, membran putih (pseudomembrane) mungkin mulai menutupi jaringan amandel, faring, dan / atau nasal. Jika tidak diobati, pseudomembran dapat meluas ke dalam laring dan trakea dan menghalangi jalan nafas; Hal ini bisa mengakibatkan kematian.

difteri

Apa Penyebab difteri?
Penyebab difteri adalah spesies bakteri yang disebut Corynebacterium diphtheriae, Organisme tersebut dengan mudah menyerang jaringan yang melapisi tenggorokan, dan selama invasi tersebut, mereka menghasilkan eksotoksin yang menghancurkan jaringan dan menyebabkan perkembangan pseudomembrane. Jenis penghasil non-toksin dan spesies Corynebacterium lainnya seperti C. ulcerans masih dapat menyebabkan infeksi, namun infeksi kurang parah dan kadang-kadang tetap ada di kulit (infeksi kulit).

Ada sejumlah cara penularan difteri yang perlu diwaspadai, seperti:
– Percikan ludah penderita difteri di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum.
– Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk atau peralatan makan.
– Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.

Pengobatan Penyakit Difteri
Ada dua strategi pengobatan yang digunakan untuk pasien yang didiagnosis dengan difteri. Keduanya paling efektif bila digunakan pada awal proses penyakit. Pengobatan pertama adalah antibiotik. Biasanya dokter akan merekomendasikan eritromisin sebagai terapi lini pertama untuk pasien berusia di atas 6 bulan. Bagi pasien yang lebih muda atau yang tidak dapat menerima eritromisin, maka akan direkomendasikan penicillin intramuskular. Penderita biasanya tidak mengalami infeksi setelah sekitar 48 jam pengobatan antibiotik dan harus diisolasi hingga saat itu untuk mencegah penyebaran penyakit.

Pengobatan kedua adalah pemberian antitoksin difteri. Antitoksin difteri mengurangi perkembangan penyakit ini dengan mengikat toksin difteri yang belum menempel pada sel tubuh. Antitoksin berasal dari kuda, jadi penerima tidak boleh diobati jika mereka alergi. Dokter Anda akan mengambil keputusan jika Anda hanya memerlukan antibiotik atau antibiotik plus antitoksin berdasarkan gejala, status imunisasi, dan perkembangan penyakit Anda.

Awas! Bahaya Difteri yang dapat mengancam nyawa, semoga bermanfaat !!